Langsung ke konten utama

Penghayat Kepercayaan, Kepercayaan Asli Indonesia

Seperti yang kita ketahui, terdapat 6 agama yang selama ini diakui di Indonesia. Keenam agama tersebut adalah Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Kong Hu Chu. Namun, sebenarnya Indonesia memiliki kepercayaan yang lebih banyak daripada 6 agama tersebut. Keenam agama yang selama ini diakui di Indonesia merupakan agama yang dibawa oleh orang-orang asing dan bukan kepercayaan yang berasal dari budaya Indonesia. Dengan banyaknya suku, etnis, kebudayaan di Indonesia, konsep kepercayaan masyarakat Indonesia kepada Tuhan juga berjumlah sangat banyak. 

Karena banyaknya nama kepercayaan diluar keenam agama resmi Indonesia, pemerintah memutuskan menamai masyarakat Indonesia yang mempercayai agama-agama lokal dengan nama Penghayat Kepercayaan. Penghayat Kepercayaan tidak hanya memiliki 1 aliran. Masyarakat di setiap daerah, kota, pulau bisa memiliki variasi terhadap kepercayaan mereka kepada Tuhan. Tekanan mayoritas dan juga diskriminasi pemerintah, membuat masyarakat ini tidak bisa dengan gamblang menyatakan kepercayaan mereka. Budaya yang mereka punya dari nenek moyang mereka, bukan sekedar kebudayaan, tetapi bagaimana mereka memaknai Ketuhanan dan Alam Semesta.

Meskipun Minoritas Bukan Berarti Tidak Ada

Melalui data yang dihimpun oleh Sensus Penduduk pada 2010 yang dilansir melalui tirto.id, setidaknya terdapat 200 ribu penduduk Indonesia yang menjawab pertanyaan "agama" dengan pilihan jawaban "Lainnya". Kemungkinan besar, 200 ribu penduduk ini merupakan pemeluk agama lokal atau kaum Penghayat Kepercayaan. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa kaum Penghayat Kepercayaan bisa saja mengisi pertanyaan "agama" tersebut dengan pilihan agama yang ada, tidak menjawab, atau tidak dinyatakan.

Kaum Penghayat Kepercayaan yang mendirikan organisasi dan mencatatkan organisasi mereka pada organisasi penghayat tingkat pusat setidaknya ada 187 organisasi. Dari 187 tersebut, 160 diantaranya masih aktif, dan 27 diantaranya dinyatakan tidak aktif. Data ini dihimpun pada tahun 2017, sehingga pada tahun 2019 ini terdapat kemungkinan organisasi penghayat kepercayaan semakin bertambah atau berkurang.Karena pengakuannya yang baru diresmikan tahun ini, belum terdapat banyak data dan jumlah pasti berapa banyak penduduk Indonesia yang merupakan Peghayat Kepercayaan. Namun, bukan berarti mereka tidak ada dan tidak bisa didengar suaranya.

Macam-Macam Penghayat Kepercayaan di Indonesia

Bila anda berasal dari Pulau Jawa, anda tentunya pernah mendengar istilah "Kejawen". Oleh masyarakat mayoritas, ajaran kejawen kerap dianggap sebagai ajaran sesat dan penuh mistis. Padahal, ajaran kejawen tidak hanya berisi santet dan perdukunan, tetapi juga banyak pemaknaan dan pemahaman lain tentang alam semesta. Selain Kejawen, juga ada kepercayaan Sunda, yang merupakan campuran antara kepercayaan leluhur, yang dicampur juga dengan ajaran agama hindu dan buddha. Selain itu, ada pula ajaran agama dari Sumba, yakni Marapu. Orang-orang yang mempercayai ajaran Marapu sangat bergantung pada hukum-hukum alam dan juga gejala-gejala alam. Melalui sebuah artikel yang dilansir melalui Historia, kepercayaan Marapu percaya pada tanda-tanda alam seperti hujan, halilintar, akan menandakan pada suatu gejala tertentu. 

Kepercayaan yang disebutkan ini hanya segelintir dari kepercayaan lokal lainnya yang ada di Indonesia. Masih banyak kepercayaan lainnya, dan penganutnya tidak ingin mengakui agama lain selain apa yang mereka percayai. Ada baiknya sebagai warga Indonesia yang baik perlu menghargai pilihan orang lain untuk mempercayai agama sesuai keinginan mereka. Masyarakat mayoritas tidak boleh semena-mena dengan minoritas agar terjadi keadilan yang sejahtera di masyarakat.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ancaman Sosial Budaya pada Era Digital

Ancaman sosial budaya tidak terdengar asing ditelinga kita. Ancaman sosial budaya termasuk dalam ancaman non militer. Maksudnya, sebuah ancaman untuk menghancurkan suatu bangsa tanpa menggunakan jalur militer. Nah sobat Kami Sosial, apakah ancaman sosial budaya dan bagaimana ancaman sosial budaya tersebut dilakukan menggunakan teknologi digital di era digital saat ini? Mari simak artikel berikut ini. Maksud dari Ancaman Sosial Budaya Ancaman sosial budaya berarti ancaman yang ditimbulkan melalui interaksi-interaksi sosial di tengah masyarakat. Interaksi yang menimbulkan ancaman atau konflik tersebut berhubungan dengan kebudayaan. Ancaman ini juga bisa berasal dari dalam, maupun luar budaya masyarakat. Ancaman bisa berupa konflik antar masyarakat, atau masuknya budaya asing yang secara perlahan merusak isi masyarakat. Contoh ancaman sosial budaya yang berasal dari luar adalah masuknya budaya asing yang berasal dari arus globalisasi, yang tidak sesuai di masyarakat, tetapi dicoba u...

Mengenal Istilah Buzzer Politik

Pada saat era Pemilu Presiden dan Legislatif di tahun 2019 ini, kita mungkin tidak asing dengan istilah buzzer politik. Jika kita rajin berselancar di internet dan mengikuti perkembangan berita politik melalui media sosial, netizen atau pengguna media sosial kerap kali menyebutkan istilah ini. Keberadaan buzzer politik seperti antara ada dan tiada. Benarkah ada orang sungguhan yang menjadi buzzer politik, atau istilah ini hanya digunakan untuk menjatuhkan lawan politik? Kami Sosial Indonesia akan membahas selengkapnya. Pengertian Istilah  Buzzer  Buzzer adalah akun anonim di media sosial yang kerap kali membuat unggahan di media sosial mengenai apa saja sesuai kesepakatan antara buzzer dengan perusahaan atau perseorangan yang menyewa buzzer  untuk mempengaruhi pengguna media sosial yang lain .  Mempengaruhi orang lain adalah pekerjaan utama bagi seorang  buzzer. Buzzer perlu membuat buzz atau menyebarkan informasi seluas-luasnya kepada pengguna lain di media...

Beragam itu Indah! Manfaat Keragaman Sosial Budaya

Jika anda warga negara Indonesia, pastinya tidak asing lagi bahwa Indonesia dikaruniai keragaman budaya yang begitu banyak. Setidaknya, Indonesia memiliki 1.340 suku bangsa, menurut hasil statistik dari BPS (Badan Pusat Statistik) pada survey penduduk di tahun 2010. Jumlah itu tidak sama dengan negara-negara lain di dunia ini yang paling tidak hanya memiliki suku bangsa kurang dari 10. Indonesia memiliki 1.340, dan diantaranya banyak yang mirip atau bahkan benar-benar berbeda. Lantas apakah manfaat dari keragaman sosial budaya yang Indonesia miliki? Manfaat Keragaman Sosial Budaya Memiliki aneka ragam budaya tentunya memiliki manfaat. Manfaat yang paling utama adalah kita bisa memperluas pengetahuan kita mengenai budaya diluar budaya kita sendiri. Terkadang, kita akan menemukan pengetahuan-pengetahuan baru dari budaya lain. Misalnya mengenai perbedaan upacara kematian di beberapa budaya di Indonesia. Di Toraja misalnya, orang yang meninggal jasadnya akan dikuburkan dengan kuburan b...